Selasa, 25 Juni 2013

Keragaman Budaya sebagai Pendorong Integrasi Indonesia


 
A.     Latar Belakang
Indonesia. Sebuah negara berdaulat yang dihuni lebih dari 200 juta penduduk yang terdiri atas lebih dari 300 suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki akar budaya dan nenek moyang yang berbeda. Tidak heran, sejak terciptanya Nusantara, kemajemukan adalah hal lumrah tak terbantahkan.

Hari berganti hari, hari menggenapi minggu, minggu menggenapi bulan, bulan menggenapi tahun, tahun menggenapi abad dan millenium. Begitu seterusnya, kemajemukan mulai menunjukkan taring negatifnya. Konflik bersifat politis, social dan budaya antar suku ataupun antar daerah, selalu menghiasi kolom-kolom berita di surat-surat kabar. Tak terhentikan bahkan sejak 67 tahun lalu ketika bangsa ini merdeka. Gerakan-gerakan terbentuk di sudut-sudut Nusantara. Mengusung berbagai nama. Ada yang menamainya ‘separatis’, ‘revolusi’, ‘reformasi’ atau bahkan, menyeret kata yang bersifat sangat nasionalis ini, ‘merdeka’. Sementara, lembaga resmi politis bernama “pemerintah” hampir tak berkutik dibuatnya.

B.       Masalah
Seperti yang sudah disebutkan penulis, Indonesia sebagai bangsa maupun sebagai negara terjangkit penyakit multidimensional yang mengakibatkan ketimpangan sistem, baik dari segi politik, social ataupun budaya. Lembaga pemerintahan yang dipenuhi kepentingan lalu mengakibatkan kebobrokan sistem yang berdampak pada tidak meratanya pembangunan yang diorganisir dan terkesan memihak. Akibatnya, banyak pihak diluar pemerintah (masyarakat) yang menilai ini tidak adil. Dan ini menciptakan bara api emosional yang dipendam dan meledakj menjadi ekstase kemarahan yang terorganisir seperti gerakan separatis reformis, contoh GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan RMS (Republik Maluku Selatan).
Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang mereka jalani dan mereka usung bukan bagian dari Indonesia. Mereka merasa tidak dianggap sebagai bagian dari bangsa ini karena dampak pembangunan yang tidak merata. Selain itu, diskriminasi ras yang dipraktekkan pemerintah di pelosok Indonesia juga ikut mewarnai ketegangan politik mengakibatkan masalah baru di pemerintah. Di satu sisi, pemerintah bakal sibuk dengan intrik dan perang politik yang mereka jalani. Di sisi lain, pemerintah dipusingkan dengan pembangunan yang terus berlanjut dan upaya memenuhi segala lini kebutuhan bagi masyarakat. Sementara, gerakan separatis terus menerus membayangi pemerintah dan masyarakat NKRI. Menghancurkan sistem dari luar dan dalam, dan berupaya menghancurkan usaha pemerintah dalam melaksanakan pembangunan multidimensional. Sosiolog menyebut ini sebagai dampak dari disintegrasi sosial dan budaya di masyarakat.

C.      Solusi
Sebagai sebuah negara,  Indonesia haruslah lebih memperhatikan kepentingan masyarakat perbatasan. Keuntungan dari segi politik, keharmonisan pemerintah dengan masyarakat akan memperkuat pagar pertahanan NKRI dan mengakibatkan negara tetangga hanya gigit jari melihatnya lalu urung niat untuk menyerobot teritori Indonesia. Pemerintah juga harus meminimalisir pembangunan yang timpang karena kepentingan pengusaha. Seharusnya, pemerintah menjadi mediator integratif ideal netral antara pihak pengusaha dan masyarakat pada umumnya. Yang pada akhirnya, terwujudnya pembangunan yang melegakan bagi kedua pihak dan pemerintah. Selain itu, pemerintah harus menciptakan program yang bertujuan mendamaikan, mengasosiasikan dan mengakomodir kepentingan pihak pendatang dan pribumi diluar pulau Jawa. Serta memenuhi pembangunan yang dibutuhkan dan berupaya menekan konflik antar suku. Begitu pula dalam hal beragama.
Sebagai sebuah bangsa, Indonesia haruslah berhasil mengingatkan penduduknya akan perjuangan massif yang mereka lakukan pada masa kemerdekaan. Indonesia harus menyadarkan anggotanya bahwa perjuangan mereka tak kan pernah selesai dengan sekat-sekat kesukuan yang membatasi. Penggunaan teknologi inovatif tidak melulu menyebabkan bangsa ini terseret dengan derasnya aarus globalisasi yang membuncahkan dan mengedepankan ego individualism. Penggunaan bahasa Indonesia yang efektif dan efisien (yang diwujudkan melalui kurikulum) dapat menjadi media yang membangunkan masyarakat dari mimpi buruk multi-krisis, bahwa selama ini mereka punya sesuatu yang dapat menunjukkan keutuhan serta kemajemukan sekaligus bangsa ini. Dan, menanamkan kembali rasa soliditas, solidaritas, toleransi, senasib sepenanggungan, tenggang rasa dan gotong-royong akan membentuk pribadi bangsa yang kokoh dan tak gentar diguncang zaman.

D.     Konklusi dan Penutup
Semua tidak akan berhasil tanpa semangat untuk merubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya!

1 komentar:

jaga lisan guys ;)